Tampilkan postingan dengan label pendidikan seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan seni. Tampilkan semua postingan

KONPETENSI SEBAGAI BASIS PENDIDIKAN SENI

Rata Penuh
Kebijakan pendidikan nasional selama ini cenderung mengedepankan pendidikan sains dan teknologi, sehingga pendidikan seni nampak terpinggirkan. dampak dari kebijakan semacam itu diantaranya adalah muncul krisis moral, budaya, dan mudah adanya kekerasan. Dalam konteks inilah pendidikan seni yang berdimensi moral menjadi sebuah alternatif yang dapat membantu orang guna mencerdaskan emosional dan intelektual, menghargai pluralitas budaya dan alam semesta, menumbuhkan daya imajinasi, motifasi dabn harmonisasi dalam mensiasati atau menanggapi sebagai fenomena sosial budaya yang muncul kepermukaan.
pengembangan tujuan pendidikan seni hendaknya mendasarkan nilai nilai, gagasan peserta didik, dan pola-p0la hidup kreatif melalui latihan-latihan. oleh karena itu, kompetensi dasar yang penting dikembangkan melalui pendidikan seni adalah kemampuan yang mampu menjembatanni dan mendukung tercapainya tujuan pendidikan secara umum. dari sinilah Guru seni dituntut mampu memenuhi persyaratan, diantaranya adalah : berwawasan luas, terampil, dan bertanggung jawab terhadap provesinya menguasai bidang ilmu (seni) dan dapat belajar seni : menguasai teori dan praktik dalam kerangka pembelajaran seni : mampu merancang dan mengelola pembelajaran seni, mampu mengaplikasikan ke peserta didik dalam situasi apapun.

NASIB PENDIDIKAN SENI

Seni atau kesenian tampaknya harus mengalami kenyataan paling sial dalam dunia pendidikan. Ia pernah ‘dimanjakan’ pada era 50-60an, tetapi lalu ‘dianak-tirikan’ di sepanjang masa Orde Baru. Bahkan dalam beberapa tahap Pembangunan Lima Tahun (pelita), pendidikan seni nyaris musnah atau, di sejumlah sekolah, diposisikan sebagai ekstra-kurikuler. Menjelang orde politik terpanjang itu berakhir, muncul upaya di banyak tempat untuk memasukkan kembali seni ke dalam intra-kurikuler, tetapi itupun ternyata harus dipaket ke dalam apa yang kemudian dikenal sebagai muatan lokal (mulok). Suatu paket pendidikan yang terkesan sebagai basa-basi politik.

Tetapi, marjinalisasi (penganak-tirian) seni dalam sekolah formal itupun juga sering dituduh atas kemauan politik. Rezim Orde Baru yang memprioritaskan sektor ekonomi dan industri di satu sisi dan cenderung memosisikan kebudayaan terutama kebudayaan daerah sebagai ‘ancaman’(baca: GBHN 1973-1993) di sisi lain sangat berpengaruh pada perencanaan pendidikan kita. Orientasi pada penguasaan ilmu alam, teknologi, dan matematika dalam kurikulum jauh lebih menonjol ketimbang pada ilmu sosial, bahasa, apalagi kesenian. Akibatnya, bidang-bidang pengetahuan dan ketrampilan tersebut mendapat prioritas berlebih.

Seni atau kebudayaan pada umumnya, kala itu dan mungkin hingga sekarang, menghadapi situasi dan berada dalam posisi yang dilematis. Ketika dipandang sebagai ungkapan keindahan tertentu atau persoalan estetika, ia diposisikan tak lebih dari sebuah klangenan, tontonan, dan pelipur lara. Sementara manakala dipandang sebagai ekspresi pandangan dan sikap tertentu atau lebih luas sebagai ungkapan aspirasi, maka iapun lalu dianggap sebagai ‘ancaman’ terhadap integrasi nasional yang dirumuskan secara politik dan militer. Sebagai persoalan estetika maupun ‘ancaman’ politik, seni dan kebudayaan lalu menjadi tak penting bagi kepentingan industri, ekonomi, dan politik. Oleh sebab itu, para petinggi Orde Baru menganggap tak perlu memberikan ruang belajar baginya dalam pendidikan formal.

Pandangan bahwa seni adalah sekedar klangenan atau pelipur lara memang bukan monopoli elite politik Orde Baru. Para budayawan secara umum dan akademisi kampus di bidang kebudayaan masa itu, dan sepertinya hingga sekarang, juga tak jauh berbeda. Seni lebih dilihat sebagai hanya untuk keperluan eksternal seniman yang bersangkutan, bukan untuk memenuhi kebutuhan diri sang seniman dan kelompoknya. Mungkin ini sangat berkaitan dengan ‘ideologi’ pendiri dan pendukung manifest kebudayaan yang selalu berkampanye “seni untuk seni”, tetapi implikasinya adalah seni menjadi berjarak dengan diri dan komunitas, apalagi dengan problem-problem sosial yang menghimpit warga masyarakat lebih luas.

Lebih jauh lagi, seperti yang dilihat para penentu pendidikan, seni hanyalah semacam ketrampilan menggerakkan tangan-kaki-tubuh, bersuara, menghafal, bertutur, menggores benda keras, menyaput, mengguratkan pena, dan seterusnya. Oleh karenanya, pendidikan seni di sekolah hanya dimaksudkan untuk melahirkan anak-didik yang trampil berkarya seni, atau seperti yang sering diajukan sejumlah pengamat seni, generasi pekerja seni.

Mengembalikan makna subtansial seni sebagai bagian terpenting dari diri seseorang dan komunitas menjadi teramat penting dan tak mungkin ditunda. Karena hanya dengan makna seperti itu, pendidikan seni akan melahirkan generasi yang berkebudayaan, manusia yang berperan dalam kemanusiaan.

pentingnya pendidikan seni rupaterhadap perkembangan otak anak

Otak adalah organ tubuh terpenting manusia yang tak hanya sebagai pusat kontrol, tetapi juga pusat kendali, tetapi juga sebagai pusat kendali atas semua sistem dalam tubuh. Otak merupakan organ inti kecerdasan dan kemampuan berpikir manusia. Secara anatomi otak terbagi kepada beberapa bagian. Bagian terbesar disebut dengan otak bear dengan dua belahan yang terkenal dengan otak kiri dan otak kanan.

Menurut riset Prof. Regar Sperry menyatakan otak cenderung membagi aktivitas menjadi dua yaitu : aktivitas otak kiri dan aktivitas otak kanan. Bila yang satu aktif yang lain cenderung in aktif. Otak kiri berhubungan dengan logika, urutan bahasa angka, angka dan analisa. Sedangkan otak kanan akan aktif bila berhubungan dengan ritme, kreativitas, warna, imajinasi dan dimensi. Namun dalam riset yang berbeda oleh Prof. Robert Ormstein. Dr. Robert Bloch dan Tony Iluxan membuktikan bahwa mengembangkan aktivitas otak kiri dan kanan secara harmonis dan simultan akan menggandakan kemampuan dasar secara sinergi.

Potensi belahan otak kiri dan kanan

Pertumbuhan otak anak paling pesat terjadi pada usia 0-2 tahun, dimana volume otak akan mencapai 80 %. Akan tetapi tidak berarti bahwa perkembangan otak berhenti hanya sampai disitu saja. Volume otak anak terus berjalan hingga usia 12 tahun. Hal ini membuat pemberian nutrisi dan stimulasi bagi perkembangan otak masih tetap sangat dibutuhkan, bahkan setelah usia 12 tahun. Perlu pro aktif orang tua dalam membentuk perkembangan otak kiri dan kana secara seimbang. Untuk kecerdasan yang optimal.

Fungsi otak kiri bagi perkembangan anak

- Mengontrol kemampuan gerak dan fungsi tubuh sebelah kanan

- Mengontrol kemampuan bicara dan menulis

- Mengontrol kemampuan bahasa dan pengucapan

- Mengontrol kemampuan menganalisa dan pengambilan keputusan

- Mengatur logika berfikir

- Mengontrol kemampuan berhitung

Fungsi otak kanan untuk perkembangan anak

- Mengontrol kemampuan gerak dan fungsi tubuh sebelah kiri

- Mengontrol kemampuan berfikir secara konseptual

- Memahami bahasa yang sederhana atau kreatifitas isi pembicaraan

- Mengatur kemampuan bermusik dan visualisasi

- Mengontrol daya ingat

- Pengembangan imajinasi dan kreatifitas bagi anak.

Orang tua memiliki peran yang sangat strategis untuk mendukung perkembangan kecerdasan anak secara optimal. Di samping gizi yang seimbang sudah tentu menciptakan kondisi lingkungan yang mensimulasi aktivitas otak kiri dan kanan. Kenalkan anak sedini mungkin dengan warna, kosa kata, cerita dan berkreatifitas.

Pendidikan seni berperan penting untuk perkembangan belahan otak bagian kanan

Banyak masyarakat kita (para orang tua) yang menganggap bahwa pelajaran seni khususnya seni rupa, bukanlah pelajaran penting. Apalagi bila ditinjau dari segi ekonomisnya. Karena pelajaran seni rupa selalu dihentikan dengan biaya yang besar. Sementara di pihak lain secara praktis pendidikan seni rupa dianggap tidak menghasilkan keuntungan material yang memadai.

Ditambah lagi tentang pengalaman berkesenian seseorang yang tidak memberikan jaminan apa-apa secara material. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kehidupan seorang seniman tidak menjamin kemapanan secara materi. Banyak seniman yang punya nama besar, tetapi tetapi tetap hidup miskin. Sehingga banyak orang tua yang melarang anaknya untuk menjadi seniman. Kecuali jika hanya sebagai hobi

Sementara bagi siswa sendiri pelajaran seni rupa adalah suatu yang harus diiringi dengan bakat. Jika tidak berbakat bagaimanapun cara belajarnya hasilnya tetap tidak akan bagus.

Dewasa ini diberbagai sekolah jam pelajaran untuk berkesinambungan diperkecil. Bahkan di beberapa sekolah unggul ada yang sudah dihapuskan sama sekali. Padahal menurut Prof. Ramesh Ganta (Kakatia University) “Bahwa bangsa yang menggusur pendidikan seni dari kurikulum sekolahnya akan menghasilkan generasi yang berbudaya kekerasan di masa depan, karena kehilangan kepekaan untuk membedakan nuansa baik dan nuansa buruk” (Disampaikan pada kongres international society for education through art di Asia Pasifik tahun 1994).

Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Paris, bila diteliti silabus pelajarannya ada mata pelajaran yang membantu anak lebih banyak mengetahui tentang seni : yaitu art dan mitologi. Anak-anak di sana tidak hanya tahu tentang keindahan sebuah lukisan yang terpajang tetapi juga mengetahui latar belakang pelukisnya atau perspektif sejarah ketika lukisan itu digoreskan di atas kanvas. Hal inilah barangkali yang membuat orang-orang Amerika mempunyai apresiasi yang cukup tinggi. Sejak kecil mereka dididik untuk mencintai museum dan karya seni.

Nah cobalah tanya anak-anak pelajar yang ada di sekitar kita, dalam setahun berapa kali sudah mengunjungi museum? Atau sudah berapa kalikah kita membawa anak ke museum dan pameran seni rupa? Atau bila lebih jeli, silahkan intip kurikulum sekolah anak kita, adakah di dalamnya terselip study ke museum? Mengunjungi pameran lukisan dan patung? Menghadiri pementasan teater? Menikmati musik daerah? Saluang atau Gamad atau Rabab dan Randai?

Harus kita akui dan perlu kita sadari bersama bahwa operasi seni dan budaya adalah salah satu elemen yang memperhalus karakteristik seseorang. Dilandasi kenyataan tersebut sangat penting artinya memberikan pendidikan seni rupa terhadap tumbuh kembang anak antara lain :

  1. Pendidikan seni rupa mampu memberikan kebebasan tanpa paksaan dalam pengalaman batin anak.
  2. Pendidikan seni rupa merupakan pendidikan ekspresi sebagai upaya pencerdasan anak dalam membentuk mental yang sehat jasmani dan rohani, berdisiplin penuh tanggung jawab, kritis bijaksana, berbudaya dan memiliki perasaan halus terhadap berbagai persoalan yang lahir di sekitarnya.
  3. Pendidikan seni rupa mampu menghidupkan fantasi, melatih ketangkasan berfikir diiringi ketajaman penghayatan terhadap alam sekitar serta lingkungan dimana anak-anak berada.
  4. Pendidikan seni rupa mampu mendatangkan jiwa dan raga anak-anak hingga kelak mencintai daerahnya dengan dilandasi nilai estetis dan artistik.

Lesunya berbagai cabang seni budaya luhur kita antara lain, karena absennya apresiasi masyarakat terhadap seni. Mungkin saja cara pengajaran dan pendidikan seni budaya kita baru sampai pada permukaan, belum menukik ke inti, yang membuat masyarakat kita memberikan penghargaan tinggi pada karya seni dan budaya kita.

Kekurangan dalam sistem pendidikan kita ini perlu disadari oleh para orang tua, eksekutif dan para pelaku pendidikan. Kita bersyukur dampaknya acara pekan budaya Sumatera Barat telah menjadi taman budaya setiap tahunnya. Dari acara ini tentunya diharapkan untuk tumbuh wawasan apresiasi seni dan budaya pada masyarakat sekitar.

Sayangnya dari undangan yang hadir saya tidak melihat anak sekolah/pelajar minimum perwakilan dari mereka. Hal ini hendaknya menjadi catatan tersendiri bagi panitia, bahwa untuk ke depannya, generasi muda kita dirangkul dalam setiap kegiatan seni budaya, minimal menjadi undangan. Karena dengan terjun langsung ke lapangan, setiap anak akan melihat, mendengar dan menyaksikan langsung bagaimana luhurnya keanekaragaman seni dan budaya mereka. Tentu akan sangat berbeda hasilnya dibanding hanya dengan membaca dari buku, atau mendengarkan guru bercerita di depan kelas dengan waktu yang sangat terbatas. Ini tentu saja akan memberikan stimulus yang sangat besar untuk perkembangan potensi belahan otak bagian kanan anak.

MUSIK PERGELARAN

Kita sering kali melihat atau menonton suatu pergelaran karya seni seperti teater, drama, cabaret, sandiwara, dan lain-lain. Baik ditempat-tempat pertunjukan atau disekolah-sekolah dalam acara-acara tertentu, misalnya penerimaan siswa baru, pelepasan kelas 3, dan masih banyak lagi.

A. Pengertian Pergelaran
Pergelaran adalah suatu kegiatan dalam pertunjukan hasil karya seni kepada orang banyak pada tempat tertentu. Untuk mencapai suatu tujuan pada dasarnya pergelaran adalah merupakan kegiatan konsumsi secara tidak langsung antara pemain dengan penonton untuk mencapai kepuasan masing-masing (baik penonton maupun pemain).
Baik tidaknya suatu pergelaran dapat di ukur dengan melihat bagaimana respon dan tanggapan serta perhatian penonton selama pergelaran itu berlangsung. Kadang-kadang ada suatu pergelaran yang di tinggalkan oleh penonton ini menandakan bahwa pergelaran itu tidak dapat berkomunikasi dengan penontonnya.

B. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan pergelaran diantaranya adalah,
- Untuk hiburan dalam acara tertentu
- Untuk menghibur masyarakat
- Untuk apresiasi
- Untuk ucapan khusus
- Untuk komersial
- Supaya kesenian tidak hilang
- Supaya kesenian dilestarikan

C. Unsur Pergelaran
Unsur-unsur pergelaran meliputi,
a Materi sajian
b Pemain
c Sarana
d Penonton

a. Materi sajian
Materi sajian adalah bentuk karya seni karawitan yang akan disajikan dengan maksud dan tujuan pergelaran, karena baik buruknya suatu materi sajian tergantung pada tujuan penyelenggara pergelaran. Maksud dan tujuan suatu pergelaran itu banyak sekali baik dalam pergelaran kecil maupun dalam pergelaran besar.

b. Pemain
Pemain adalah orang-orang yang terlibat langsung dalam kegiatan seni, baik sebagai juru sekar, juru gendang, maupun yang memainkan suatu pemeran seorang tokoh yang dimaksud dalam suatu materi sajian. Pergelaran pemain adalah merupakan unsur terpenting dalam pergelaran karena materi sajian pergelaran dalam hal ini secara langsung dipertontonkan oleh seorang pemain. Kesuksesan serta keberhasilan suatu pergelaran tergantung pula kepada pemain. Oleh karena itu seorang pemain harus benar-benar siap pentas, dalam arti siap segala-galanya baik mentalitas maupun penguasaan materi sajian. Sehingga dapat bermain dengan sempurna serta dapat memberika suatu kepuasan kepada penonton.

c. Sarana
Sarana merupakan unsur pendukung yang tidak boleh dianggap enteng dalam suatu pergelaran. Karena unsur sarana sangat berpengaruh banyak terhadap kesuksesan dan keberhasilan dalam pencapaian tujuan pada suatu pergelaran.
Unsur sarana meliputi, tempat pergelaran dan hal yang digunakan dalam pergelaran seperti: dekorasi, pentas, tata cahaya, saund system, tata rias, tata busana, dan lain-lain.

d. Penonton
Menonton suatu pergelaran karawitan adalah merupakan sebagian dari kebutuhan hidup yang menyenangkan. Jadi dengan menonton pergelaran karawitan, orang dapat melepaskan diri sejenak dari kejenuhan dan kejemuan sehari-hari. Kepuasan yang didapat akan melahirkan kebahagiaan bagi penonton. Karena itu penonton menginginkan materi sajian yang menyenangkan. Apabila sajian pergelaran itu tidak memuaskan hal ini dapat menimbulkan kekecewaan bagi penonton, kadang-kadang penonton dengan spotanitas melontarkan tanggapannya baik kekagumannya maupun kekecewaannya karena tidak puas. Dengan demikian penonton adalah merupakan salah satu unsur yang penting dalam suatu pergelaran.

e. Penyelenggara Pergelaran Kesenian
Pergelaran melputi bagian yang bersifat management dan bagian yang langsung berurusan dengan kegiatan seni. Yang dimaksud dengan bagian management yaitu kumpulan orang- orang yang melakukan suatu kegiatan dalam mengurus operasional pergelaran yang dipimpin oleh produser. Di sekolah biasanya dipimpin oleh ketua panitia atau oleh Kepala Sekolah.
Bagian ini mengurusi tentang memeroleh dana dan cara penggunaannya seta mempersiapkan keperluan- keperluan penyelenggaraan pergelaran, seperti; perijinan, tempat pergelaran, perlengkapan- perlengkapan pergelaran, konsumsi, transportasi akomodasi, dan penonton. Bagian yang berlangsung dengan kegiatan seni yaitu kumpulan orang- orang yang melakukan suatu kegiatan khusus sesuai dengan tugasnya masing- masing seperti; pemain, pelatih, piñata cahaya, penata suara, penata rias dan sebagainya yang dipimpin oleh seorang sutradara

Adapun langkah- langkah persiapan dalam penyelenggaraan pergelaran diantaranya:
1. Pengorganisasian pergelaran
2. Menentukan tema, sasaran, materi sajian, serta artis.
3. Pelaksanaan latihan
4. Evaluasi latihan pergelaran
5. Menyiapkan sarana pergelaran
6. Gladi resik
7. Melaksanakan pergelaran

1. Perorganisasian Pergelaran
Maksudnya adalah dalam sebuah pergelaran ada perorganisasiannya dalam kata lain kepengurusan kepanitiaan. Karena itu merupakan sarana komunikasi untuk mengatur dan mengarahkan semua potensi demi mencapai tujuan atau sasaran pergelaran.
Perorganisasian disekolah dapat menggunakan cara:
• Penanggung jawab : Kepala Sekolah
• Koordinator Pergelaran : Guru muatan lokal kesenian
• Ketua Pelaksana : Ketua OSIS
• Wakil Ketua : Wakil ketua OSIS
• Sekertaris : Siswa
• Bendahara : Siswa
• Seksi-seksi : – Seksi sarana dan prasarana
- Seksi latihan
- Seksi konsumsi

2. Menentukan Tema, Sasaran, Materi Sajian, serta Artis
Dalam suatu pergelaran kita harus menentukan tema dan sasaran atau tujuan serta materi sajian. Untuk menentuakan tema kita harus menentukan tujuan dan sasaran terlebih dahulu. Apabila sasaran dan tema telah ditentukan, maka kita dapat menyusun materi sajian yang akan ditampilkan.
3. Pelaksanaan Latihan
Dalam pelaksanaan latihan sangat diutamakan rasa tanggung jawab, sungguh-sungguh, serius, dan tepat waktu. Hal ini sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan dan kesuksesan penyelenggaraan pergelaran.

4. Evaluasi Latihan
Bertujuan untuk mengukur kesiapan dalam pergelaran apabila belum siap pentas, maka kita dapat mengintensifkan latihan dengan menambah waktu latihan.

5. Menyiapkan Sarana Pergelaran
Agar penyelenggara pergelaran dapat terlaksanakan dengan baik maka sarana yang perlu di cek terlebih dahulu.

6. Gladi Resik
Adalah latihan terakhir yang biasanya dilaksanakan ditempat pergelaran, seolah-olah benar-benar sedang melaksanakan pergelaran. Hal ini bertujuan agar pemain dapat menguasai pentas.

7. Melaksanakan Pagelaran
Sesuai langkah-langkah dalam pagelaran kita terlebih dahulu harus menyusun kepengurusan pagelaran
• Penanggung jawab: Kepala Sekolah
• Koordinator Pergelaran: Guru muatan lokal kesenian
• Ketua Pelaksana: Ketua OSIS
• Wakil Ketua: Wakil ketua OSIS
• Sekertaris: Siswa
• Bendahara: Siswa
• Seksi-seksi: – Seksi sarana dan prasarana
- Seksi latihan
- Seksi konsumsi

f. Tugas-tugas Kepengurusan Pergelaran
1. Ketua pelaksana
Bertugas untuk mengatur segala hal dalam penyelengaraan pergelaran, mampu berkomunikasi, dan berkerjasama antara kepala sekolah maupun siswa dan juga memiliki sifat kepemimpinan.
2. Wakil ketua
Bertugas untuk mendampingi ketua, atau menggantikan ketua bila ketua berhalangan, dan memberikan dorongan untuk memperlancar kegiatan.
3. Sekertaris
Bertugas untuk mencatat notula semua kegiatan kepengurusan selama penyelenggaraan pergelaran, dan juga membuat laporan kegiatan sebelum dan setelah penyelenggaraan pergelaran.
4. Bendahara
Bertugas sebagai penerima, penyimpan dana yang masuk dalam pembiayaan pergelaran, dan bertanggung jawab atas penggunaan keuangan.
5. Seksi sarana dan prasarana
Bertugas untuk mengurus dan melayani serta mempersiapkan alat-alat yang diperlukan dalam pergelaran.
6. Seksi latihan
Bertugas untuk penangguang jawab dalam latihan, menyusun jadwal latihan, serta mengevaluasi setiap latihan.
7. Seksi konsumsi
Bertugas untuk memberikan konsumsi selama pergelaran bagi panitia, para undangan, dan para pemain.

Hal-hal yang perlu dipertahankan dalam menulis sinopsis adalah:
a. Menggunakan bahasa penulis sinopsis
b. Sudut pandang orang ketiga
c. Alurnya maju
d. Tidak ada dialog

Pagelaran atau Drama mempunyai unsur-unsur pembangunan cerita dan unsur-unsur tersebut biasanya disebut unsur-unsur intrinsik. Unsur-unsur itu adalah tema, alur, perwatakan, amanat, latar (setting), dan titik pengisahan (point of view).

1. Tema
Tema merupakan ide yang mendasari suatu cerita sehingga mampu memaparkan suatu karya fiksi yang diciptakannya. Persoalan, cita-cita, dan gagasan yang diungkapkan pengarang tidak terlepas dari tema.

2. Alur
Alur atau plot adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Alur disusun tidak lepas dari tema. Jalan cerita yang disusun atau dijalin tidak boleh meloncat ke lain tema. Tiap-tiap kejadian akan berhubungan sehingga seluruh cerita merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

3. Karakter/ Perwatakan
Dalam cerita rekaan, ada individu yang diceritakan. Individu ini dalam karya sastra lazim disebut tokoh. Tokoh tersebut digambarkan mempunyai karakter atau watak, misalnya pemarah, periang, pemabuk, pemalu, penyabar, atau rajin. Penggambaran watak tokoh dapat secara langsung ataupun tidak langsung. Orang yang mempunyai watak pemarah, tidak langsung dikatakan ‘dia pemarah’, tetapi dengan kalimat atau uraian lain sehingga pembaca mengetahui bahwa tokoh yang igambarkan dalam cerita tersebut memiliki sifat pemarah.

4. Amanat
Dalam cerita rekaan, terdapat pesan yang dituangkan oleh pengarang. Pesan atau amanat ini dapat ditafsirkan sendiri oleh pembacanya. Tidak mustahil terjadi perbedaan penafsiran amanat pembaca dengan amanat atau pesan yang dikehendaki pengarang.

5. Latar/ Setting
Latar adalah segala keterangan atau petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra beserta tempatnya. Dari pengertian latar ini, dikenal latar waktu (kapan), latar tempat (di mana), dan latar sosial (keadaan lingkungan masyarakat). Pengungkapan latar ada yang secara langsung dan yang tidak langsung. Dalam cerita yang baik, antara latar dan penokohan sangat menyatu sehingga baik penokohan maupun latar tidak dapat dipertukarkan.

6. Sudut Pandang/ Titik Pengisahan (Point of view)
Sudut pandang atau titik pengisahan dalam kesusastraan mencakup:
a. Sudut pandang fisik, yaitu posisi dalam waktu dan ruang yang digunakan pengarang dalam pendekatan materi cerita;
b. Sudut pandang mental, yaitu perasaan dan sikap pengarang terhadap masalah dalam cerita;
c. Sudut pandang pribadi, yaitu hubungan atau keterlibatan pengarang dengan pokok masalah dalam cerita.

D. Menjiwai Karakteristik Tokoh Drama
Untuk mendapatkan hasil pementasan yang baik, salah satunya terletak pada kemampuan pemain dalam menjiwai karakteristik tokoh yang diperankannya. Dalam hal ini, seorang pemain harus berusaha menghayati sedalam mungkin karakter tokoh yang akan diperankannya sehingga ia mampu menempatkan dirinya sehingga seorang tokoh di dalam drama tersebut, bukan sebaliknya menjadi dirinya sendiri. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan ketika memerankan tokoh drama, diantaranya sebagai berikut,

1. Kosentrasi
Pemusatan pikiran untuk menghayati dan menjiwai karakteristik tokoh yang akan diperankan. Pemusatan pikiran ini melibatkan tiga faktor, yaitu faktor fisik, mental, dan emosional.

2. Kemampuan mendayagunakan emosional
Seorang pemain diharuskan mampu untuk menampilkan bentuk-bentuk emosional tokoh yang diperankan dengan baik. Bentuk-bentuk emosional biasanya ditampilkan dalam bentuk mimik muka, gerak, ataupun suara.

3. Kemampuan laku dramatik
Kemampuan laku dramatik ialah kesanggupan pemain dalam melakukan sikap, tindakan, serta prilaku, yang merupakan ekspresi dari tuntutan emosi.

4. Kemampuan membangun karakter
Karakter pemain sebisa mungkin identik dengan karakter tokoh yang ingin diperankan. Seorang pemain dituntut untuk tidak tampil dengan karakter diri pribadinya, melainkan sebagai tokoh yang diperankannya.

5. Kemampuan melakuakan observasi
Kemampuan ini berkaitan dengan kemapuan pemain dalam menampilkan gerak yang seidentik mungkin dengan gambaran kenyataan yang ada dalam naskah drama. Kemampuan tersebut bisa dilatih dengan melakukan observasi/pengamatan langsung terhadap sikap aktivitas manusia sehari-hari.

6. Kemampuan menguasai irama
Irama yang dimaksud ialah tempo permainan gerak atau prilaku agar terjadi kehormatan dalam pemeranan. Tempo tersebut didasarkan pada deskripsi yang ada dalam naskah drama.

pengaruh difusi bidang musik terhadap karawitan

pengaruh difusi bidang musik terhadap karawitan

Keberadaan karawitan sebuah unsur kebudayaan tidak bisa mengisolasikan diri dari proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan di muka bumi ini, terutama dari unsur kebudayaan yang sejenis dalam hal ini musik. pengaruh penyebaran unsur-unsur kebudayaan di bidang musik terhadap karawitan nampak dari, peminjaman alat musik non karawitan kedalah karawitan. terdapatnya kesamaan antara instrumen karawitan dengan alat musik yang lain. juga adanya perpaduan sajian musik karawitan dengan musik non karawitan. ini fakta tersebut tentunya menjadi fenomena baru dalam dunia per musikakan dalam halnya karawitan. dengan demikian perjalanan sejarah kehidupan karawitan sampai mencapai ujudnya yang sekarang ini. tidak lepas dari pengaruh budaya-budaya non musik karawitan baik di dalam lingkup regional maupun internasional. fenomena ini sebaiknya dipandang sebagai satu perjalanan sejarah di bidang musik secara umum, dan lebih khusus lagi di dalam bidang karawitan.

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi terbagi menjadi 3 yaitu

1. musicalisasi puisi
2. puisi musical
3. musical puisi

  • Musicallisasi puisi itu adalah sebuah puisi yang dibuat menjadi lagu sehingga menimbulkan harmoni-harmoni dari musik itu sendiri dan dari dalam puisi itu........

  • Puisi musical adalah pembacaan puisi yang diiringi dengan musik .......

  • Musical puisi adalah pembacaan puisi dalam bentuk lirik dan dibaca dengan alunan musik untuk menambah harmoni dalam puisi

Pendidikan Seni Musik Di SMP


seni musik banyak di ajarkan di berbagai jenjang pendidikan di sekolah umum maupun sekolah kejjuruan tertentu. pada kesempatan ini akan kita bicarakan keberadaannya di jenjang SMP.
A. kedudukan seni musik di SMP
pendidikan seni musik di smp mengacu pada sifatnya sebagai sekolah umum. ini berarti bahwa pelajaran seni musik mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan mata pelajaran lainnya. demikian juga guru dalam pengelolaan di satu tidak perlu mengharap perhatian dari pimpinan sekolah, tetapi guru seni musik wajib bertanggung jawab terhadap semua bentuk kegiatan seni musik di sekolah.
kemudian dalam kedudukan SMP sebagai sekolah lanjutan dengan siswa yang berasal dari berbagai SD, maka sedikit banyak di perlukan perhatian kita. misalnya perluanya penyeragaman istilah dalam musik sebelum memulai bahan baru di SMP. langkah demikian tampaknya sederhana, tetapi harus dilaksanakan. kenyataan menunjukan bahwa keseragaman ilmiah tentang ilmu musik sebagai contoh : kres,kros,krois,kruis, atau palang untuk menunjuk tanda yang sama. demikian pula dengan 5 buah garis yang sejajar untuk tempat titi nada dinamakan garis paranada.
mengingat lagi siswa SWMP adalah siswa yang umum dengan arti bahwa mereka bukan siswa yang khusus disiapkan untuk belajar musik. dengan demikian, di salah satu pihak mungkin kita temukan siswa dengan suara yang sumbang, dan tidak bisa memainkan alat musik juga, tetapi di pihak lain mungkin ada siswa calon bintang seni musik. oleh sebab itu, proses belajar mengajar seni musik di SMP hendaknya mengacu pada keadaan yang demikian. karena mata pelajaran seni musik itu sendiri termasuk mata pelajaran yang membentuk bakat siswanya.